Review Film Kate dengan Aksi Laga yang Keren

DANG MERDU – “Kate” merupakan sebuah film yang disutradarai oleh Cedric Nicolas-Troyan. Film aksi yang satu ini mengkombinasikan dua referensi budaya, Hollywood dan juga Jepang. Tidak berbeda dengan romantisme gaya hidup mafia Italia, Hollywood dan kebanyakan penikmat film aksi mengakui bahwa Yakuza adalah sebuah “budaya”  dari Jepang yang keren. Disamping “Kate”, Netflix sendiri sebelumnya telah merilis beberapa film dengan pengaruh Jepang seperti “The Earthquake Bird” (2019) serta “The Outsider” (2018). “Kate” hadir sebagai produk baru yang menyuguhkan aksi balas dendam mainstream dengan kesan baru.

“Kate” adalah film laga yang memiliki alur cerita yang mungkin sudah tidak asing lagi dimata para penikmat film laga. Film ini hadir dengan protagonis pembunuh bayaran yang lihai, karakter sidekick yang unik, balas dendam dan pastinya didukung dengan aksi pertarungan yang brutal.

Naskah dibuat dengan plot kronologis yang mudah untuk diikuti. Semua cerita mudah dipahami penonton mulai dari prolog, babak utama kisah Kate sampai akhir dari film. Dalam film ini, diceritakan bahwa objektif utama protagonis hanya ingin melancarkan misi balas dendamnya sebelum waktunya habis. Kemudian penonton juga akan dibawa ke sebuah perjalanan dalam menaklukkan setiap “boss” pada check point tertentu agar bisa mencapai “big boss”.

Saat penonton mengira bahwa perjalanan telah usai, film ini menghadirkan plot twist sebagai objektif baru untuk menghadirkan akhir yang lebih dramatis. Namun yang sangat disayangkan, terdapat beberapa karakter pendukung yang cukup menarik tapi kurang ditonjolkan dalam penokohan.

Sebagai sebuah film aksi yang mengusung latar belakang di Jepang, kesan yang terpancar dari “Kate” memang terasa lebih baru dan fresh. Film ini jauh dari kata mainstream yang sudah terlalu sering kita temukan dalam sebuah film aksi, terutama untuk para penggemar film aksi bertema mafia atau tema pembunuh bayaran.

Soundtrack Jepang modern yang futuristik digunakan untuk mengiringi setiap adegan krusial dalam film ini. Selain itu, penonton juga akan melihat lebih banyak aktor Jepang dalam film ini. “Kate” menggunakan banyak dialog bilingual dengan porsi yang dibilang hampir seimbang.

Baca Juga: Review Film: ‘A Classic Horror Story’ yang Sangat Mendebarkan

Panorama indah Kota Tokyo menjadi penghias film laga yang satu ini. Panorama Kota Tokyo di malam hari tampilkan secara maksimal untuk memberikan sinematografi yang menawan banya penonton. “Kate” sendiri mengusung tema latar Jepang yang futuristic, dengan warna-warna lampu neon dominan merah muda yang menghiasi langit malam.

Adegan pertarungan masal dalam film ini dibuat dengan koreografi yang diarahkan dengan sangat baik. Adegan pertarungan tersebut menantang, dimana diantaranya adalah pertarungan di gang-gang Roppongi, restoran private ala Jepang, sampai dengan gedung-gedung bertingkat yang secara maksimal dapat memperlihatkan pemandangan malam kota Tokyo. Mary Elizabeth Winstead berhasil memerankan setiap adegan pertarungan dengan sangat menawan, didukung para stunt yang berperan sebagai pendukung aktris utama dalam film ini.

Kate sendiri adalah sebuah film yang menceritakan kisah seorang pembunuh bayaran bernama Kate (Mary Elizabeth Winstead). Ia mendapatkan tugas untuk membunuh para anggota Yakuza di Kota Tokyo. Tapi ternyata ketika ia menjalankan misi tersebut, Kate justru diracuni oleh musuhnya. Kemudian setelah mengetahui tubuhnya diracun, ia langsung mengobati dirinya. Kate mempunyai waktu yang terbatas dalam melakukan balas dendam.

Ia hanya memiliki waktu 24 jam untuk membalas dendam kepada musuh yang telah sudah meracuni tubuhnya. Namun seiring berjalannya waktu, tubuh Kate menjadi semakin melemah dan ia harus membunuh musuhnya itu sebelum ia kehabisan waktu. “Kate” menjadi film action terbaru dari Netflix yang wajib untuk ditonton. Penasaran dengan kelanjutan kisahnya?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here