Review Film Blood Brothers: Malcolm X and Muhammad Ali

DANG MERDU – Blood Brothers: Malcolm X and Muhammad Ali merupakan sebuah film dokumenter yang tayang di Netflix pada 9 September 2021. Seperti judulnya, film ‘Blood Brothers: Malcolm X and Muhammad Ali’ ini berpusat pada Malcolm X dan juga Muhammad Ali itu sendiri. Film dokumenter ini telah berhasil diproduksi  oleh Simon, Jonathan Chinn, K. Barris, dan lain-lain dengan sangat apik.

Film ini menggambarkan persahabatan yang paling aneh dan tidak disukai oleh banyak orang di abad ke-20. Film ini menceritakan kisah persahabatan 2 tokoh legenda dunia paling ikonik yang harus terpisahkan. Hanya sedikit orang yang mampu memahami ikatan yang dimiliki kedua orang tersebut.

Muhammad Ali merupakan seorang petinju legendaris. Ia juga menjadi juara Olimpiade yang karismatik dan juga  blak-blakan yang mempesona bangsa. Selain itu, Ali juga merupakan  peraih medali emas untuk Tim USA di Olimpiade Roma pada tahun 1960. Sedangkan Malcolm X merupakan aktivis hak asasi manusia dan seorang tokoh Muslim Afrika-Amerika. Malcolm X adalah orang yang berani memperjuangkan hak-hak untuk orang kulit hitam. Malcolm merupakan mantan intelektual revolusioner yang mengecam kejahatan penindasan kulit putih dengan berbicara kebenaran sebagai bentuk kekuatan.

Dikisahkan pada tahun 1962, hanya sedikit yang percaya bahwa Muhammad Ali akan menjadi juara dunia kelas tinggi. Namun Malcolm X, melihat potensi dari Muhammad Ali, bukan hanya untuk kehebatan tinju, namun sebagai sarana untuk menyebarkan pesan Bangsa. Keduanya sangat cepat menjalin pertemanan. Mereka juga merahasiakan interaksi mereka dari pers sebab takut membahayakan karier Muhammad Ali (Cassius Clay). Dari pertemuan yang terjadi secara kebetulan sampai ke dampak butuk yang tragis, ikatan luar biasa yang terjalin antara Malcolm X dan Muhammad Ali mengalami keretakan di bawah ketidakpercayaan serta pergeseran tujuan.

Pesan yang dibawa oleh ke dua tokok tersebut masih sama kuat serta relevannya hingga hari ini. Ikatan mereka tidak dapat diragukan lagi. Persahabatan mereka nyata dan juga meninggalkan warisan yang terikat erat.

Baca Juga: Review Film a Perfect Fit yang Mengangkat Budaya Bangsa

Film ini adalah film dokumenter yang terinspirasi dari sebuah buku berjudul “Blood Brothers”. Buku ini ditulis oleh profesor sejarah Georgia Tech Johnny Smith dengan mantan penasihat akademisnya Roberts yang merupakan profesor sejarah Universitas Purdue Randy. Didalam buku tersebut juga terdapat beberapa catatan FBI serta dokumen pribadi dari tokoh yang bernama Malcolm X. Salah satu catatan tersebut berisi penjelasan yang sangat rinci mengenai Cassius Clay atau Muhammad Ali yang bisa menjadi salah satu simbol kebanggaan kemerdekaan kulit hitam terbesar yang pernah ditemui AS pada masa itu.

Penulis buku ‘Blood Brother’ berkata bahwa dapat berpartisipasi serta menceritakan kisah melalui media yang berbeda menjadi suatu hal yang sangat menarik dan menyenangkan. Smith mengatakan bahwa ia dan juga Roberts telah menghabiskan waktu yang lama untuk membicarakan tentang pembuatan buku yang berkaitan dengan Ali tersebut.

Setelah itu, mereka memutuskan untuk fokus pada hubungan erat yang terjadi antara Malcolm X dan juga Muhammad Ali, yang sebelumnya memang belum pernah dieksplorasi ke tingkat yang lebih detail. Mereka juga menjadi pembuat komik yang populer sebagai Louisville Lip.

Film dokumenter yang satu ini juga memberikan perspektif tambahan yang berasal dari tokoh-tokoh seperti sejarawan dan profesor Universitas Harvard Cornel West,  profesor film dan studi media Universitas California Selatan Todd Boyd dan aktivis hak-hak sipil Al Sharpton.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here