Dang Merdu – Sekarang hampir semua orang bisa memotret karena hampir semua orang mempunyai handphone disertai kamera. Bahkan, kamera yang menempel pada handphone itu kualitasnya sudah cukup bagus.

Intinya semua orang bisa memotret, tetapi tidak semua orang bisa bercerita melalui foto. Kali ini, “tips fotografi” akan berbagi mengenai tips untuk membuat foto cerita.

Di dalam fotografi ada yang namanya foto cerita. Foto cerita maksudnya adalah foto yang tersusun minimal dua gambar atau lebih untuk menghasilkan interpretasi selanjutnya.

Dalam foto cerita, foto yang satu dengan foto lainnya memiliki kesinambungan. Foto cerita tersebut juga disertai dengan tulisan untuk membantu menjelaskan isi dari cerita yang diangkat.

Bentuk foto cerita beragam, salah satunya adaalah foto esai. Dalam foto esai tersebut muatan opini sang fotografer sangatlah kuat.
Foto cerita dapat juga dirangkai sedemikian rupa, dengan gaya yang beragam. Bisa dalam bentuk foto esai, deskriptif, series (biasanya portrait dan blok), sanding (diptik atau triptik, bisa menyandingkan atau membandingkan), dan lain-lain.
Gaya-gaya tersebut bisa juga digabung. Tetapi harus sesuai dengan cerita yang diangkat dan dirasa cocok ketika akan ditampilkan serangkaian.
Dalam membuat foto cerita, hal yang pertama sekali yang harus dilakukan adalah memilih topik. Pilihlah topik yang semenarik mungkin. Hal yang menarik adalah modal bagaimana untuk menarik diri kita agar antusias dan kreatif saat membuat foto cerita.
Dalam memilih topik tidak hanya yang sudah kita ketahui saja, namun kita juga bisa memilih topik yang sebelumnya tidak kita ketahui. Maka cara untuk menemukan topik menarik adalah mengamati fenomena sosial bisa di kehidupan nyata atau media sosial, bergaul atau mengobrol, membaca buku bahkan menonton film.

Kita memerlukan mentor untuk melihat dan mengontrol dalam membuat suatu foto cerita. Alangkah baiknya jika mentor tersebut adalah orang yang berpengalaman dalam pembuatan foto cerita. Jika tidak ada, teman pun bisa juga dijadikan mentor sebagai partner diskusi atau orang yang melihat dari sudut pandang yang lain.

Berikutnya adalah “keterjangkauan”. Tips kedua ini banyak hal yang berkaitan dengan keterjangkauan. Terjangkau berdasarkan jarak, akses, waktu atau biaya.

Membuat cerita tentang pemburu madu di Nepal itu adalah suatu hal yang sangat rumit karena jarak yang jauh dan biaya yang keluar cukup banyak, sementara di Indonesia sendiri juga ada pemburu madu. Atau membuat topik tentang keseharian Presiden Jokowi, tetapi akses untuk dapat memotret kesehariannya adalah hal yang sulit dijangkau. Maka dari itu, objek yang mudah dijangkau adalah hal penting dalam membuat foto cerita.

Tips ketiga adalah riset. Pada saat akan memilih topik dan mengukur keterjangkauan pastinya kita sudah melakukan riset. Namun riset pada tahap ini harus lebih mendalam.

Kita bisa lebih memperdalam lagi topik yang kita pilih dan membagikan ke dalam beberapa subtopik, narasumber-narasumber yang kita wawancara, pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya menjadikan kita lebih memahami dan menguasai cerita yang akan kita angkat.

Riset merupakan bekal kita untuk memotret, menguasai masalah, dan ide cerita yang akan membuat kegiatan memotret untuk pembuatan suatu foto cerita kita terarah dan hasil fotonya pun tidak dihapus dengan cuma-cuma. Bahan-bahan yang berkaitan dengan pembuatan foto cerita kita adalah alangkah baiknya jika dicatat ke dalam mind mapping atau pemetaan pemikiran.

Baca Juga : TEKNIK JITU MEMOTRET MALAM HARI TANPA FLASH

Memotret untuk membuat suatu foto cerita sebenarnya bisa dilakukan kapan saja, namun alangkah baiknya dan akan terasa lebih mudah bila memotret pada saat kita sudah menentukan topik dan objek foto yang akan menjadi subyek foto cerita kita. Potretlah objek foto cerita tersebut dengan beragam angle, fotografer biasanya menggunakan metode EDFAT (entire, detail, framing, angle, time).

Tahapan berikutnya adalah editing. Tips keempat ini bukan hanya sekedar mengedit teknis foto seperti brightness, contrast, dan warna. Editing ini biasanya disebut juga dengan sequencing. Sequencing itu adalah mengumpulkan foto yang sekiranya akan dimasukkan ke dalam rangkaian foto cerita. Biasanya Fotografer memilih 5, 10 sampai 15 foto yang terbaik dari semua hasil jepretannya.

Apabila setelah dirasa prosesnya cukup dan tidak menimbulkan tanda tanya lagi (bagi kita sebagai fotografer dan mentor) dan foto-foto sudah sangat mendukung cerita yang diangkat, maka untuk tahap selanjutnya adalah final editing atau final sequencing.

Tahap kelima ini merupakan tahap dimana kita memerlukan editor untuk mengkurasi dan menyeleksi puluhan foto bahkan ratusan foto menjadi satu rangkai foto cerita yang biasanya lebih kurang dari 20 foto.

Hal yang biasa dilakukan berulang dalam membuat foto cerita adalah riset, motret, dan editing. Kedengarannya memang sedikit melelahkan, tetapi jika hal ini dilakukan berulang-ulang, tentunya akan membuat foto ceritanya baik dan pembaca pun akan memahami foto cerita kita tersebut.

Ketika proses pembuatan foto cerita kita berjalan dengan baik, pasti kita akan mendapat hal baru, baik itu wawasan baru atau pertanyaan baru serta evaluasi dari proses pembuatan foto cerita tersebut. Itulah yang membuat prosesnya (riset, motret, editing) berulang namun berkembang.

ADVERTISEMENT
Tahapan yang tidak akan terlewatkan adalah menulis naskah. Tahap ini bisa dilakukan bersamaan dengan tahap lainnya, bisa dilakukan awal ataupun diakhir. Banyak fotografer yang tidak pandai menulis teks. Oleh karena itu dalam menulis naskah alangkah baiknya bila kita berkonsultasi terlebih dahulu kepada yang biasa menulis.

Terkadang banyak fotografer yang tidak memiliki editor. Solusinya yaitu melakukan permohonan kepada editor melalui pesan pribadi instagram, e-mail dan lainnya; dengan menjelaskan project yang kita buat, apa menariknya, apa pentingnya dan apa relevansinya dengan kondisi seperti saat ini.

Jika editor tersebut tertarik, maka ia akan bersedia membantu menyelesaikan final editing foto cerita kita, bahkan menceritakannya di media massa dan pastinya kita akan dibayar jika foto dimuat di media massa. Kebanyakan editor sibuk, maka dari itu bersabarlah, lakukan hal itu berkali-kali dan harus tetap sopan.

Tahap final akan berjalan dengan lancar, jika semua tahap dilakukan dengan baik. Kepada editor yang terakhir kita harus bisa menjelaskan apa yang kita buat, agar dia dapat memahami foto cerita kita. Dia perlu mendengar tujuan pembuatan foto cerita kita dan mendengar alasan-alasan kenapa kita menentukan suatu hal serta kita juga harus bisa menjawab apa yang ia tanyakan.

Dengan begitu, editor pasti akan membantu kita menyusun foto-foto dengan baik, sesuai dengan apa yang ingin kita ceritakan. Selamat mencoba!

 

Jangan Lupa Baca Berita Seputar Photography lainnya di Dangmerdu.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here