Dang Merdu – Ngomongin mengenai flash memang sudah jadi “teman setia” para fotografer meskipun sebenarnya statusnya sekedar aksesoris. Flash on-camera jadi tidak dapat dipisahkan dari fotografer karena sangat membantu pemotretan untuk menyuplai cahaya tambahan ketika kondisi terlalu gelap bagi kamera. Bahkan sekarang penggunaanyapun tidak hanya sekedar fungsional tetapi juga menambah estetika foto.

Sebenarnya ada banyak jenis flash untuk kamera sih? Bagaimana dengan penggunaannya masing-masing? Nah, inilah yang akan kita kupas kali ini.

Flash Built-In vs Flash External,

Flash on-camera adalah jenis tipe strobe light (flash) yang dapat langsung dihubungkan ke kamera. Dinamakan “on-camera” karena bukan bawaan kamera yang biasanya ada di dalam body, tetapi biasa dipasang di atas kamera lewat hotshoe (konektor tembaga yang ada di atas kamera).

Flash external sendiri tampilannya lebih bagus dibanding flash built-in dan menyediakan banyak opsi sebagai lighting. Dan tidak hanya sekedar menjadi sumber cahaya tambahan.

Keuntungannya, flash jenis ini biasanya mempunyai baterai sendiri.

Mengenal Guide Numbers, Manual Usage, Mengontrol Flash Power dan Sync Speeds

Sebaiknya pahami cara mengontrol flash secara manual untuk lebih memahami anatominya, sebelum mempelajari teknologi otomatis pada flash. Seperti gear fotografi pada umumnya, flash ini mungkin akan membuat anda bingung karena flash juga punya angka-angka. Dimulai dari yang namanya guide numbers.

Guide numbers sudah standar dengan angka bilangan yang makin besar maka cahaya flash akan makin kuat. Angka itu adalah hasil perkalian f/stop dengan jarak di ISO 100 (rumus GN = f/number x jarak). Contohnya adalah jika Anda mempunyai flash dengan guide number 100 maka memotret jarak 25 kaki maka dibutuhkan memakai bukaan f/4 untuk ekposur yang bagus.

Harus dicatat juga, mengontrol exposure di kamera ketika memakai flash sebaiknya hanya dilakukan dengan memodifikasi aperture (tidak mengubah shutter speed). Karena, durasi flash lebih pelan dibanding shutter speed.

Sebaiknya speed tercepat yang digunakan untuk pakai flash disebut “sync speed”. Jika Anda akan membuat eksposur lebih cepat dibanding sync speed (yang rata-rata maksimal 1/250 detik), maka ketika shutter, kamera cenderung tidak sempat “membersihkan” gambar/sensor ketika flash sedang menyala. Hasilnya foto akan menjadi gelap/hitam pekat.

Sebaliknya, Anda dapat membuat eksposur yang lebih lambat daripada sync speed maksimal dan akan tetap menghasilkan foto yang terekpsos dengan baik.

Fill-Flash and “Dragging the Shutter”

Flash juga bisa digunakan sebagai “pengisi” (filler) untuk dikombinasikan dengan pencahayaan ambient (cahaya natural di ruangan), tidak hanya untuk menerangi subyek foto dalam kondisi kurang cahaya,

Seringkali ketika kita menggunakan flash, kita jadi lebih suka menggunakan shutter speed lebih cepat karena yakin subjek akan masih cukup terang. Namun, ketika kita memutuskan untuk melakukan itu, sebenarnya kita jadi membatasi sumber cahaya lain masuk ke dalam frame. Oleh karena itu kita perlu memperlambat shutter speed kita agar cahaya flash dan cahaya ruangan dapat masuk ke dalam frame dengan seimbang, namun tidak begitu lama agar foto kita tidak ada yang shaky.

Teknik ini disebut ”menyeret” shutter speed dan teknik ini dapat digunakan untuk menyorot subjek di depan kita, namun juga mendapatkan background yang cukup terang . Contohnya akan memotret lapangan atau semak-semak saat senja. Biasanya latar depan dan sekitarnya sangat gelap namun ada kelihatan lebih banyak cahaya di bagian langit.

Membiarkan shutter terbuka lebih lama untuk menangkap cahaya langit, biasanya untuk kondisi seperti itu dapat menggunakan flash menerangi area terdekat. Teknik ini memberikan pencahayaan yang cukup untuk menyeimbangkan area gelap dan terang dalam satu frame. Untuk freeze gerakan di pencahayaan yang gelap Teknik ini juga bagus.

Baca Juga : Mengatur kamera mirrorless dengan menggunakan flash/trigger manual

Apa itu fill flash?
Fill flash itu bisa juga dikatakan serupa tapi tak sama.

Fill flash adalah Teknik untuk menggelapkan background dengan menjatuhkan cahaya flash di subyek yang terdekat dengan menggunakan flash. Teknik ini dapat digunakan dalam situasi yang cukup terang atau pada siang hari.

Untuk dapat menggunakan fill flash dengan benar, caranya yaitu dengan mengukur metering subyek foto kemudian background. Perbedaan exposure tersebut yang akan diisi oleh flash. Atur kamera agar mengekspos background (dengan mindset bahwa kita akan menggelapkan bagian background) baru kemudian setting flash Anda untuk perbedaan stop diantara kedua area tersebut, setelah anda menentukan perbedaannya.

Cara ini adalah cara yang efektif untuk me-render kedua area sehingga hasilnya lebih seimbang. Ini juga dapat dijadikan trik untuk membuat subyek terdekat lebih terang dibanding background agar lebih kleihatan menonjol. Caranya sama seperti sebelumnya, hanya saja aturlah exposure kamera sengaja underexpose area ambient dan pastikan flash menyinari subyek foto dengan baik.

Through-The-Lens (TTL) Flash Metering

Semua perlengkapan yang disebut sebelumnya dapat digunakan maksimal dengan memakai flash yang disetting manual. Dengan settingan manual, fotografer yang memegang kendali penuh atas flash ataupun kamera sehingga ideal untuk keperluan kreatif. Tetapi pastinya tidak cocok untuk yang butuh cepat.

Nah, untuk kebutuhan cepat atau praktis dapat menggunakan TTL (Through-The-Lens) otomatis yang menyesuaikan dengan settingan yang ada di kamera. Dengan mempertimbangkan shutter speed, ISO, dan aperture yang digunakan pada kamera Metode metering TTL akan menyesuaikan settingan power dan zoom pada flash secara otomatis.

Metering flash TTL dimulai pada saat tombol shutter kamera ditekan kemudian memicu blitz yang terhubung. Kemudian flash ini akan mengirimkan semburan cahaya, pra-flash, yang akan menyinari subjek dan terpantul kembali melalui lensa.

Cahaya yang kembali ini diarahkan ke meter exposure akan menentukan berapa lama harusnya flash akan menyinari subyek. Untuk memberikan hasil yang baik sistem TTL modern sendiri dapat mengontrol pengaturan eksposur baik pada kamera maupun flash.

Perlu diingat, dengan menggunakan metode apapun dan flash merk apapun pastikan kompatibel ya. Flash yang digunakan untuk kamera Canon tidak akan bisa digunakan di Sony karena flash bekerja secara otomatis, biasanya flash TTL dibuat khusus per brand. Sistem TTL belakangan ini juga dipengaruhi jenis lensa. Jika cocok maka kualitas hasil jepretan dan metering eksposur akan semakin bagus karena akurasi jarak subyek dengan flash bisa tepat.

Jangan Lupa Baca Berita Seputar Photography lainnya di Dangmerdu.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here